Kristus Tuhan,
Hidup di Jakarta rasanya makin meyiksa,
tiap hari aku berangkat pagi buta,
tetapi jalan sudah padat di mana-mana.
Menyemut mobil dan motor roda dua,
berhimpit meliuk-liuk kesini sana.
Hujan sedikit banjir,lalu macet luar biasa,
Waktu terbuang sia-sia,
tua di jalan nasib derita semua.
Sepanjang hari aku tergesa-gesa,
seperti lari di kejar anjing gila,
pikiran gundah gulana penuh rencana.
Sekarang pukul berapa?
Pagi ini ada janji dengan siapa?
Tugas mana jadi urutan pertama?
Tak habisnya kupunya kerja,
sibuk terus namun hidup terasa hampa.
Makan langsung telan habis perkara,
mengemudi kendara tegang bak berlomba,
terengah-engah naik turun tangga,
dua ponsel kugenggam kemana-mana,
tidak punya waktu untuk sanak saudara,
apalagi berlibur atau olahraga,
pulang larut malam lesu tak berdaya,
padahal ingin hidup sehat dan lama.
Tuhan memberi waku sebagai karunia
bagaimana menggunakannya secara bijaksana?
Apakah santai ataukah tergesa-gesa?
Sebenarnya apakah yang paling utama?
Kuantitas prestasi atau kualitas karya mulia?
Apakah ukuran hidup bahagia?
Keberhasilan yang diukur angka,
ataukah kedalaman makna?
Aku jadi bertanya-tanya,
Siapakah lebih bijaksana,
manusia ataukah kura-kura?
Tolonglah aku belajar dari kura-kura,
tugasnya tuntas langkahnya mantap sentosa,
umurnya panjang dua kali manusia,
merasa cukup seadanya dan puas lega
karena punya waktu baca buku dan berdoa.
Amin.
Direpost : 4 Desember 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment