Like...

Celine

Celine
Hahhhh!!!

D'cost

D'cost
Old Team

Waktu sedang galau

Waktu sedang galau
Jarak dekat

Barusjahe

Barusjahe
Kerangen pulo corp

Celine

Celine
Celine

Celine

Celine
Celine

Jambur Dalihan Na Tolu

Jambur Dalihan Na Tolu
Kede kopi

Grave

Grave
Nek Tigan

Tempo dulu alias Sinai

Tempo dulu alias Sinai
Rumah adat Karo

Ersatur

Ersatur
Kesenangan saat main catur

Saturday, 4 December 2010

Lahir-Cari Uang -Mati


Lahir-Cari Uang-Mati*)


Dia lahir karena kekeliruan teknis.Orang tuanya memakai kontraseptif,tetapi “dia “ lahir juga.Meskipun pembuahannya tidak dikehendaki,sesudah lahir dia menjadi anak yang dikehendaki juga oleh kedua orang tuanya.Pernah dia waktu muda-belia diserang oleh putus asa.Apa yang dilakukannya selalu gagal,dan kawan-kawan seolah-olah menghindari dirinya.

Dia lalu mengeluh pada Ibunya,“Alangkah baiknya kalau saya tidak pernah dilahirkan
Pernah ibunya di waktu marah karena dia nakal,menggerutu.Memang sebaiknya kamu tidak dilahirkan dulu.semua orang memang tidak tahu sejarah kelahirannya,dan ada baiknya begitu.


***
Lahir tidak dapat kita tentukan waktunya,pasti terjadinya,apa akan berlangsung dengan aman,dan orang tua tidak dapat kita pilih,demikian pula tempat lahir dan lingkungannya,dinegara mana, serta bagaimana pasca lahir sampai mati.

Waktu lahir kadang-kadang dipercepat oleh dokter yang sibuk.Kita lahir dengan menangis,sedih meninggalkan rahim yang aman dan surgawi,bebas dari hak dan kewajiban.

Waktu itu kita tidak usah makan sendiri,apalagi bekerja.Kita menjerit ketika lahir, menguji coba paru-paru kita, alat suara kita, juga sebagai tanda takut akan ketidak pastian dunia yang kita masuki, dan sebagai propaganda pertama bahwa kita sudah ada di dunia.
Kita dilahirkan di antara air kecil dan air besar,seolah-olah untuk mengingatkan kita kembali akan asal-usul kita sesudah kita bergelimang uang, kekuasaan dan keindahan.


***
Mati juga tidak kita ketahui bila datangnya.Kadang-kadang sesudah maut mendekat,manusia merasa ajalnya akan tiba.Kadang-kadang mati kita pilih sendiri dan kita kehendaki, misalnya karena putus harapan,penyakit terminal,sebagai protes atau untuk syahid dalam melaksanakan tugas yang tinggi.

Mati dapat dipercepat oleh lingkungan dan diperlambat oleh kedokteran,atau sebaliknya diperlambat oleh lingkungan dan dipercepat oleh kedokteran.Tidak biasa manusia memekik waktu akan mati,kecuali dalam pembunuhan atau kecelakaan.
Biasanya manusia justru mengerang dan merintih seakan-akan enggan meninggalkan dunia atau lenyap begitu saja seperti lilin yang perlahan-lahan padam.

Antara lahir dan mati, disinilah manusia bermain. Baik perseorangan maupun masyarakat berusaha agar masa ini panjang dan nyaman.Manusia berburu di masa ini:di zaman purbakala ia berburu hewan sekarang ia berburu uang, dan uang ini yang dipertukarkannya dengan kebutuhan hidup yang bermacam-macam dan sebagian besar tidak perlu.

Usaha berburu uang berkembang begitu rupa sehingga menjadi obsesi dan kompulsi bagi manusia,sehingga tujuan hidupnya menjadi mengumpulkan harta untuk hidup nyaman, meraih status sosial yang terkemuka dan kekuasaan,yang sebetulnya hanya cara sekarang menjadi tujuan utama.


 ***
Menjadilah manusia zoon oekonomikon (hewan ekonomi). Sekarang ada kecenderungan sekolah diharuskan mendidik murid untuk “siap cari uang“ atau “siap dipakai orang lain untuk mencari uang”.Manusia dianggap sumber daya ekonomi dan modal industri.

Manusia dilahirkan dan dididik untuk menjadi baut mesin pencari uang.Inilah yang dianggap pendidikan yang relevan.Manusia hanya berguna kalau ia menjadi suku mesin ekonomi , kalau tidak,jumlahnya harus dibatasi.

Rekreasi pun dipakai untuk mencari uang.Orang berekreasi dengan berjudi dan bertaruh dan yang lain mencari uang dari orang yang mencari rekreasi ini.Segala-galanya berputar sekitar uang. Maka berkuasalah Dewa Bumi- Uang kata Goethe.

Dan Shakespeare menambah”jika uang berjalalan dimuka,segala pintu akan terbuka“ Hidup manusia menjadi gersang.Jasmaniah ia raksasa, dengan pakaian berlapis-lapis,tetapi rohaniah ia kerdil dan mental ia bugil.Sampai bata-batas tertentu serba ekonomi (ekonomisme) dapat mengayakan kita,tetapi diatas itu ia malah memiskinkan kita.


***
Tokoh fiktif kita pada awal cerita tadi,sesudah mengatasi depresinya,menjadi sangat bersemangat untuk hidup efisien dan produktif.Dia makin sadar bahwa hidupnya terletak di pundaknya sendiri.Setelah kita lahir,hidup rupanya adalah keharusan.Dia sadar bahwa banyak hal tentang kelahiran dan kematian tidak dapat ditentukannya.Maka dengan pragmatis dia mulai memahat hidupnya sendiri.

Hidup ini tidak lain daripada mencari uang:tanpa uang segala-galanya omong kosong melompong sagu.Tetapi berburu uang seperti juga berburu binatang liar di hutan,ada risikonya juga.

Dia berhasil mencapai status sosial,kemewahan,kekuasaan dan kebebasan, tetapi matinya bertambah cepat.Dia meninggal sebelum waktu yang di harapkan karena penyakit kemewahan,penyakit peradaban,penyakit manager,atau penyakit duduk.

Upacara pemakamannya dan makamnya sendiri cukup mewah,tetapi pada batu nisan yang mungil hanya tertera “epitaph” pendek  Polan bin Polin”-Lahir tanggal sekianPontang panting mencari uang-Mangkat tanggal sekian .
Seluruh hidupnya muat dalam sebuah tempurung kelapa sawit dan kuburnya satu waktu mungkin akan di gusur pula.

 What a Tragedy ! Suatu cerita lara manusia modern…





* epitaph: tulisan di batu nisan
*) T.J

No comments: